Ada Apa Dengan 'Reality Show' ?

Maraknya penonton televisi yang gandrung menikmati acara tayangan “reality show” dengan menghabiskan waktu senggangnya untuk menonton televisi dalam acara tersebut.  Acara-acara tersebut, umumnya menampilkan kehidupan orang-orang miskin. Harapannya dapat memancig rasa iba hingga tetesan airmata para penonton televisi. Meski ada juga acara yang sekedar menampilkan bagaimana bila si miskin ini “dikerjai”. Dalam sebuah acara, misalnya (uang kaget, bedah rumah, pemberian misterius dan sebagainya) dalam hal ini uang kaget, orang miskin diberi uang jutaan rupiah untuk dibelanjankan harus dibelanjakan dalam hitungan menit saja. Saat itu juga, layar kaca pemirsa pun mempertontonkan wajah berkeringat dan tangan gemetaran si miskin saat memiliki setumpuk uang yang mesti dihabiskannya dalam hitungan waktu yang sesingkat-singkatnya pula. Dan situasi inilah yang menjadi hiburan tersendiri dan tidak menutup kemungkinanan penononton bisa sambil tertawa saat melihatnya.
Tontonan semacam itu (reality show) semakin menarik perhatian dengan permainan gambar yang diambil kamera person, seperti rekaman kegaduhan atau keramaian disekitarnya, raut muka-mimik muka yang diambil secara dekat (close-up) dengan guratan-guratan muka, bibir yang gemetar dan matanya yang nanar ketika setumpuk uang diberikan kepadanya dan harus dibelanjakan barang apapun dengan waktu yang telah ditentukan. Tayangan tersebut dalam pandangan saya bukan tidak ada yang positif, namun posisinya menyedihkan karena orang miskin kerap menjadi objek. Televisi sebagai media massa yang dianggap paling sempurna diantara media massa lain.

LATAR BELAKANG MASALAH
Reality show sebenarnya menampilkan kenyataan yang dimodifikasi, seperti menaruh partisipasi di lokasi-lokasi tertentu (eksotis), atau situasi-situasi yang tidak lazim, memancing reaksi-reaksi tertentu dari partisipan, dan melalui penyuntingan dan teknik-teknik pasca produksi lainnya.
Ironisnya, masyarakat umum terutama masyarakat menengah ke bawah yang sudah tentu awam terhadap duna pertelevisian tak banyak yang tahu bahwa acara realitas hanyalah kebohongan belaka. Mereka terlalu fanatik dan menganggap bahwa kisah-kisah haru dan dramatik yang kebanyakan ditonjolkan oleh acara-acara realitas memang benar-benar terjadi dengan tanpa adanya scenario. Apalagi pengemasannya yang terbilang bagus dengan didukung tema-tema menarik bahkan hal-hal mistik seperti perdukunan serta hal-hal yang serba religi pun semakin membuat masyarakat seolah-olah tersihir untuk senantiasa menyaksikannya.
Fenomena seperti itulah yang menjadikan acara realitas sebagai kebohongan publik yang nyata dan tentu saja dapat memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat luas, terutama masyarakat yang masih awam terhadap intrik di dunia pertelevisian. Acara-acara realitas yang baru-baru ini membanjiri dunia pertelevisian nasional berhasil memanfaatkan penonton dengan memodifikasi kenyataan, serta menggunakan teknik-teknik pasca produksi yang seolah-olah menjadikan tiap adegan dalam acara tersebut benar-benar terjadi tanpa adanya rekayasa.
Pengaruh buruk tersebut semakin parah karena sebagian besar acara realitas sekarang mempertontonkan hal-hal yang sebenarnya tak patut dan tidak mendidik, seperti menceritakan kemiskinan sebagai obyek yang bisa dijual kepada khalayak bahkan pada awal-awal program semacam ini muncul mampu menaikkan rating. Tidak ada yang tahu, maksud dalam pembuat program reality show kemiskinan seperti saat ini namun yang bisa dilihat adalah program acara ini mampu mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bagi pemilik media. Iklan yang masuk disela-sela acara reality show inilah yang membawa keuntungan yang menggiurkan bagi pemilik media.


PERMASALAHAN
Permasalahan program televisi yang menayangkan reality show merupakan suatu masalah yang sering ditimbulkan akibat adanya acara realitas yang saat ini ada di layar kaca nasional, dimana merupakan salah sebuah bentuk komodifikasi yang mendominasi program acara televisi di negeri ini. Komodifikasi disini dapat diasumsikan proses transformasi barang dan jasa dari nilai gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya di pasar. Proses transformasi dari nilai guna menjadi nilai tukar, dalam media massa selalu melibatkan para awak media, khalayak pembaca, pasar, dan negara apabila masing-masing di antaranya mempunyai kepentingan. Nilai tambah produksi berita akan sangat ditentukan oleh kemampuan berita tersebut memenuhi kebutuhan sosial dan individual.
Ketika periklanan menggerakkan kekuatan dari komoditas untuk mempertinggi hubungan, sebaliknya periklanan sendiri menyembunyikan proses produksi dengan meniadakannya, membuatnya menjadi abstrak, atau menyisipkan estetika di dalamnya. Sebagai khalayak, kita hanya tahu tampilan luar dari suatu komoditas dalam sebuah iklan, tanpa pernah tahu bagaimana komoditas itu diproduksi.
Reality Show yang banyak menonjolkan masyarakat miskin sebagai temanya, maka dapat dilihat bahwa acara tersebut cenderung mengeksploitasi kemiskinan untuk memperoleh keuntungan materi yang lebih besar. Televisi menjadikan kemiskinan melakukan proses transformasi barang dan jasa dari nilia gunanya menjadi komoditas yang berorientasi pada nilai tukarnya dipasar. Adalah merupakan salah satu betapa permasalahan kemiskinan sekalipun mampu menjadi obyek para pemilik media untuk bisa menghasilkan keuntungan.
Program acara reality show ‘kemiskinan’ hingga saat ini masih menduduki rangking tertinggi untuk dijadikan komoditas segala kepentingan individu.
Dari suatu potret tentang kemiskinan timbul berbagai macam hal yang mampu menarik perhatian masyarakat mulai dari kelucuan-kelucuannya, simpati, perenungan hingga keuntungan yang lebih bersifat materi dan popularitas.


Comments