TRILEMA SEBUAH HUBUNGAN

Saya pernah mendengar sebuah anekdot berjudul trilema sebuah hubungan. Entah sinis entah bercanda, anekdot tersebut memetakan susahnya menjalani sebuah hubungan romantis yang tidak impas. Ada tiga hal yang dipertaruhkan: kepintaran, kejujuran, dan dukungan yang tulus untuk hubungan tersebut. Hanya dua yang bisa dipenuhi, tidak mungkin semuanya. Kalau kamu jujur dan pintar, kamu tidak mungkin mendukung hubungan yang tak impas. Kalau kamu jujur dan mendukung hubungan itu, kamu pasti bukan orang yang pintar. Kalau kamu pintar dan mendukung secara tulus, kamu tentu sedang membohongi diri.

hubungan romantis pada zaman modern ini semakin menyerupai dagangan di pasar. Sekarang ini orang baru memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan romantis ketika dia sudah menganalisa calon pasangannya secara objektif. Memang, memahami orang lain itu penting dilakukan, terutama kalau orang lain itu adalah calon pasangan. Bahkan, fromm sendiri menempatkan pengetahuan, bersama dengan kepedulian, tanggung jawab, dan respek, sebagai empat dasar hubungan interpersonal yang sehat. Artinya: cinta adalah suatu kemampuan, seni, atau cara berperilaku yang bisa dipelajari lewat praktek langsung, kesabaran, dan pengambilan keputusan yang baik.

Kehidupan modern sayangnya mengacaukan konsepsi cinta sebagai sebuah kemampuan. Sejak kapitalisme naik dan mendominasi kehidupan manusia, segalanya jadi bisa dinilai dari nilai-nilai ekonomi.

Jadinya, pada zaman sekarang, cinta dinilai dari potensinya. Tampaknya laki-laki lebih sering mempraktekkan ini ketimbang perempuan. Ketika seorang laki-laki melihat seorang perempuan, dia menganalisa perempuan tersebut menurut interest personalnya: mana yang bagus buat si pria, mana yang tidak, dan seterusnya. Dengan kata lain, laki-laki tersebut tidak sedang melihat perempuan sebagai manusia, tapi sebagai tipe. Dalam setiap perempuan, laki-laki melihat apa saja yang ada di dirinya. Kecocokan baru terjadi ketika si laki-laki merasa si perempuan dapat memenuhi apa yang laki-laki ingin dan butuhkan. Oleh karena itu, pernyataan “aku sayang kamu” kini bermakna ganda sebagai “kamu adalah tipeku” dan “aku mau kamu jadi milikku”


Di sisi lain, kaum perempuan semakin sadar akan potensi dirinya. Mereka tahu mereka punya semacam kekuatan di atas para pria. Namun kekuatan tersebut hanya efektif dalam hubungan interpersonal. Patriarki terlalu mengakar di masyarakat kita sehingga tidak ada cukup ruang bagi perempuan untuk mendominasi pria sepenuhnya. Akibatnya, mengutip Simone de Beauvoir, laki-laki dilihat masyarakat sebagai makhluk hidup, sementara perempuan sebagai spesies betina. Setiap kali seorang perempuan berperilaku layaknya makhluk hidup yang rasional, maka ia akan dianggap sedang meniru perbuatan laki-laki. Oleh karena itu, ketika seorang perempuan menolak memberi kepastian pada seorang laki-laki, sebenarnya ia sedang melukai ego laki-laki tersebut. Laki-laki tidak terbiasa pada posisi didominasi, dan melalui penolakan perempuan sebenarnya sedang mendominasi pria. Ketidakpastian akan status kepemilikan adalah bentuk dominasi yang bisa dilakukan perempuan atas pria.Dengan ego maskulinnya yang terluka, seorang pria hampir pasti selalu bereaksi setelah ditolak. Dia akan berusaha menarik perhatian si perempuan kembali, dan menjadikannya hubungannya dengan si perempuan menjadi hubungan yang berlabel. Ditolak secara terus-menerus pada waktu yang lama, laki-laki akan menjalani siklus penegasian dirinya — ia akan menganggap dirinya tidak penting lagi. Yang penting hanyalah si perempuan, dan pihak laki-laki menganggap segala usahanya selama ini sebagai pengorbanan.

Namun perempuan punya pendapat lain; dia melihat aksi negasi diri si laki-laki sebagai kesuksesan, karena pada titik itu laki-laki seperti bersedia menyerahkan dirinya ke tangan perempuan, dan membiarkan nasibnya ditentukan oleh si perempuan. Fenomena seperti inilah yang saya sebut sebagai hubungan yang tidak impas.

Comments